oleh

Menuju Muktamar XXI: Andi Djuwaeli Usung Visi Kebangkitan Peradaban Mathla’ul Anwar

-Pendidikan-14 Dilihat
banner 468x60

LONCENG RAKYAT – Suhu politik di internal Mathla’ul Anwar mulai menghangat menjelang Muktamar XXI yang dijadwalkan berlangsung di Serang, 11-13 April 2026.

Salah satu nama yang menguat dalam bursa calon Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar adalah Andi Yudi Hendriawan, atau yang akrab disapa Andi Djuwaeli.

banner 336x280

Munculnya nama Andi Djuwaeli membawa angin segar bagi organisasi yang kini telah mencapai usia 110 tahun.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Andi menekankan pentingnya “semangat kebangkitan” untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Kita punya sejarah panjang dalam mencerdaskan bangsa. Di usia 110 tahun ini, tantangannya adalah bagaimana pendidikan, dakwah, dan aksi sosial kita bisa relevan dengan generasi Gen-Z dan Alpha, tanpa mencabut akar khitah para pendiri,” ungkap Andi.

Beberapa poin krusial dalam visi-misi yang ditawarkan Andi antara lain:

Modernisasi Institusi: Digitalisasi tata kelola organisasi dan pendidikan madrasah.

Kemandirian Ekonomi: Membangun unit bisnis organisasi agar tidak bergantung pada bantuan eksternal.

Dakwah Wasathiyah: Mempertegas posisi Mathla’ul Anwar sebagai perekat umat di tengah polarisasi.

Dukungan terhadap Andi Djuwaeli dilaporkan terus mengalir dari berbagai Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Daerah (PD).

Mereka berharap, di bawah kepemimpinan Andi, Mathla’ul Anwar dapat kembali menjadi episentrum gerakan Islam yang diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional.

Muktamar XXI sendiri rencananya akan dibuka hari ini dan dihadiri oleh ribuan delegasi dari seluruh Indonesia untuk menentukan arah kebijakan organisasi lima tahun ke depan.

Muktamar XXI Mathla’ul Anwar: Andi Djuwaeli Resmi Deklarasikan Diri sebagai Calon Ketua Umum

Tokoh muda Mathla’ul Anwar, Andi Yudi Hendriawan bin H.M. Irsjad Djuwaeli, yang akrab disapa Andi Djuwaeli, resmi menyatakan diri maju dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar periode 2026-2031.

Deklarasi ini disampaikan menjelang pelaksanaan Muktamar XXI yang akan berlangsung pada 11-13 April 2026.

Andi Djuwaeli mengusung visi besar untuk membangkitkan kembali semangat juang organisasi dalam membangun peradaban melalui penguatan tiga pilar utama: Pendidikan, Dakwah, dan Sosial. Momentum ini dinilai krusial karena bertepatan dengan usia Mathla’ul Anwar yang ke-110 tahun.

“Mathla’ul Anwar adalah organisasi dengan sejarah panjang dan akar rumput yang kuat. Di usia 110 tahun ini, kami membawa misi besar untuk melakukan transformasi organisasi agar lebih modern, mandiri, dan tetap setia pada khitah pendidikan serta dakwah,” ujar Andi Djuwaeli saat ditemui di Serang, Jumat (10/4/2026).

Putra dari tokoh kharismatik almarhum H.M. Irsjad Djuwaeli ini menegaskan bahwa tantangan ke depan menuntut Mathla’ul Anwar untuk adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang menjadi identitas organisasi.

Dalam program kerjanya, Andi menitikberatkan pada digitalisasi sistem pendidikan madrasah, peningkatan kualitas dai di era siber, serta penguatan ekonomi organisasi berbasis pemberdayaan umat.

“Kami ingin membawa semangat kebangkitan. Bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tapi soal bagaimana kita bersama-sama memastikan Mathla’ul Anwar menjadi solusi bagi persoalan keumatan dan kebangsaan di masa depan,” tambahnya.

Muktamar XXI Mathla’ul Anwar dijadwalkan akan dihadiri oleh delegasi dari berbagai Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Daerah (PD) dari seluruh Indonesia.

Agenda utama muktamar ini adalah mendengarkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya sekaligus memilih nakhoda baru untuk memimpin organisasi lima tahun ke depan.

Dukungan terhadap Andi Djuwaeli dikabarkan terus mengalir dari sejumlah basis wilayah yang menginginkan adanya regenerasi kepemimpinan yang mampu menjembatani nilai historis dengan visi masa depan.

Menjemput Takdir di Usia 110 Tahun: Andi Djuwaeli dan Jejak Langkah Sang Ayah di Mathla’ul Anwar

Di sebuah sudut ruangan yang sarat dengan tumpukan buku dan kenangan, Andi Yudi Hendriawan menatap lekat sebuah potret tua.

Dalam bingkai itu, nampak sosok H.M. Irsjad Djuwaeli—sang ayah—sedang berorasi di mimbar Mathla’ul Anwar dengan sorot mata yang tajam namun meneduhkan. Bagi Andi, potret itu bukan sekadar penghias dinding; itu adalah sebuah kompas.

Kini, menjelang Muktamar XXI Mathla’ul Anwar yang akan digelar pada 11-13 April 2026, Andi yang lebih akrab disapa Andi Djuwaeli, bersiap melangkah ke mimbar yang sama.

Bukan untuk sekadar meneruskan nama besar, melainkan untuk menjemput takdir pengabdian di organisasi yang kini genap berusia 110 tahun.

Darah Perjuangan dan Nafas Pendidikan

Sejarah Mathla’ul Anwar adalah sejarah tentang keteguhan. Sejak didirikan pada 1916 di Menes, organisasi ini telah menjadi kawah candradimuka bagi para pejuang peradaban.

H.M. Irsjad Djuwaeli, mantan Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, adalah salah satu arsitek yang memastikan api organisasi ini tetap menyala di masa-masa sulit.

Kini, darah perjuangan itu mengalir deras pada putra beliau. Andi tidak datang dengan tangan kosong.

Ia membawa misi bertajuk “Membangkitkan Kembali Semangat Juang,” sebuah narasi yang sangat akrab di telinga para kader senior yang pernah berjuang bersama ayahnya.

“Saya besar di lingkungan madrasah. Saya melihat bagaimana Ayah mencurahkan seluruh hidupnya untuk dakwah dan sosial. Di usia 110 tahun Mathla’ul Anwar, tugas kita adalah memastikan bahwa warisan nilai ini tidak hanya menjadi pajangan sejarah, tapi menjadi energi untuk membangun peradaban modern,” ujar Andi dengan nada suara yang mengingatkan banyak orang pada karisma almarhum ayahnya.

Antara Khitah dan Modernitas

Majunya Andi Djuwaeli bukan tanpa tantangan. Ia memikul beban ekspektasi untuk membawa Mathla’ul Anwar melampaui seabad usianya.

Visinya jelas: transformasi. Ia ingin melihat madrasah-madrasah Mathla’ul Anwar menjadi episentrum pendidikan yang melek teknologi, namun tetap memiliki akar moral yang kokoh.

“Ayah selalu berpesan, Mathla’ul Anwar harus menjadi ‘tempat terbitnya cahaya’. Cahaya itu hari ini adalah ilmu pengetahuan yang adaptif, kemandirian ekonomi umat, dan dakwah yang merangkul semua golongan,” tambahnya.

Keterikatan emosional antara sosok Andi dan sejarah panjang sang ayah menjadi magnet tersendiri bagi para muktamirin.

Banyak yang melihat sosok Andi sebagai jembatan—seorang figur yang mampu merangkul para sesepuh dengan rasa hormat, sekaligus menggandeng generasi muda dengan inovasi.

Menuju Muktamar XXI

Di sela-sela persiapan Muktamar, Andi kerap terlihat berdiskusi dengan para tokoh senior, mendengarkan wejangan sebagaimana ia dulu mendengarkan nasihat ayahnya di meja makan.

Baginya, Muktamar di Serang nanti bukan sekadar ajang pemilihan ketua umum, melainkan momentum rekonsiliasi akbar untuk “pulang ke rumah” bagi seluruh kader.

Saat Muktamar XXI dimulai esok hari, Andi Djuwaeli tidak hanya membawa visi dan misinya.

Ia membawa serta bayang-bayang keteladanan sang ayah, semangat 110 tahun pengabdian, dan sebuah janji: bahwa cahaya Mathla’ul Anwar akan terus bersinar, lebih terang dari sebelumnya.

Di usia satu abad lebih satu dekade ini, sebuah babak baru siap ditulis. Dan di garis depan, seorang anak ideologis sekaligus biologis, siap melanjutkan estafet peradaban itu***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *